Sabtu, 23 Agustus 2008

Bazar hanya pemborosan Biaya Pendidikan

Bazar panganan yang dilaksanakan di alon-alon kota Lamongan dari tanggal 22-24 Agustus 2008 bisa jadi sangat membebani orang tua. Siswa dipaksa beli kupon bazar yang harganya rata-rata Rp 10.000,- sampai Rp. 15.000,-. Kupon ini ditukar dengan panganan atau minuman yang dirasa 'sangat mahal' bagi siswa yang tidak mampu. Bagi siswa yang rumahnya luar kota, penukaran kupon yang hanya dilayani malam hari sangat merugikan mereka karena kebanyakan mereka pulang dengan sepeda atau naik angkutan umum. Pulang pada malam hari sangat menakutkan akibatnya kuponnya diberikan pada teman atau tidak diambil sekalian. Disisi lain, kegiatan yang dilakukan malam hari ini telah menjadi ajang maksiat bagi sebagian siswa-siswi. Bisa dilihat sampai tengah malam mereka tidak beranjak dari tempat bazar. hanya untuk bercanda ria, sementara esoknya harus belajar lagi di sekolah.
Kegiatan yang berlangsung 3 hari ini ternyata juga menyita tenaga dan pikiran dari para guru. Akibatnya banyak kelas yang lowong tidak ada gurunya karena sibuk mempersiapkan bazar. Seperti juga dampak kegiatan 17 lainnya, murid sekolah banyak yang pulang pagi.
Dengan melihat kenyataan di atas alangkah baiknya bila bazar ditiadakan saja. Murid tidak butuh makanan mahal. Mereka butuh beli buku paket. mereka butuh bayar uang komite. Ini yang lebih penting. Jadi bazar hanya merupakan pemborosan biaya pendidikan.

Jumat, 15 Agustus 2008

MENGAPA GURU BERPRESTASI TIDAK DIPERHATIKAN?

Setiap tanggal 17 Agustus, seluruh pejabat di Kabupaten Lamongan dapat kehormatan untuk ikut upacara hari kemerdekaan. Setiap tanggal 26 Mei, Lamoongan mengadakan upacara HUT Lamongan.
Tetapi seperti tahun-tahun yang lalu, perwakilan guru berprestasi tidak ada yang diundang untuk duduk di bangku kehormatan. Guru berprestasi atau guru teladan tidak pernah dianggap berjasa di kabupaten yang sedang maju-majunya ini. Guru-guru teladan ini harus puas dengan selembar piagam yang ditandatangani bupati tetapi tidak laku untuk pengajuan angka kredit (PAK). Atau cukup puas karena bisa dijadikan poin untuk menjadi kepala sekolah. Kita harus bangga, NUN rata-rata tertinggi dicapai oleh Lamongan. Seluruh peserta ujian lulus100 % kecuali yang meninggal dunia. Tetapi guru tetap tidak ada artinya atau tidak pernah dianggap dalam momen bersejarah ini di kabupaten tercinta ini. Bukankan untuk jadi pejabat, harus lulus dari sekolah dulu. Lulus sekolah harus dapat ilmu dari guru. Lah ini setelah jadi pejabat, lupa pada jasa guru. kalau yang berprestasi lainnya diumumkan dan diundang, mengapa guru tidak?

Minggu, 03 Agustus 2008

Buku Murah, Malah Jadi Mahal

Pemerintah telah berusaha menyediakan buku murah lewat internet. Ya, sepertinya ini menjadi terobosan yang sangat baik, karena semua orang (guru) bisa mengakses dan mencetak sebagai bahan ajar. Masalahnya tidak semua guru bisa ngenet. Tidak semua sekolah punya jaringan internet. Jutaan pelajar di negeri ini memegang komputer saja belum pernah. Apalagi internetan.
Sebetulnya kalau dihitung secara finansial, jatuhnya harga ternyata lebih mahal. Biaya rental internet selama lebih kurang 2 jam sekitar 6 ribu. Apalagi kalau downloadnya lama bisa-bisa 3 jam. Biaya nge-print habis 9 ribuan. Jadi kalau ditotal masih sama harganya dengan buku yang dijual dipasaran.
Saya pikir Pemerintah harus lebih realistis dalam menyelesaikan masalah perbukuan ini. Pemerintah tidak boleh 'medit' (pelit) dalam hal mencerdaskan generasi bangsa. Kalau pilihan gubernur habis ratusan milyar, mengapa beli buku dan dibagikan gratis pada murid tidak bisa? Kalau standar penilaian di SMP pada 4 mata pelajaran (Bahasa Indonesia, MTK, Bahasa Inggris dan IPA), mengapa tidak buku-buku itu saja yang dibagikan gratis pada setiap siswa. Yang menjadi pertanyaan adalah pemerintah serius tidak membantu mencerdaskan generasi muda ini? Menyediakan buku gratis saja tidak mampu. Memalukan.

Selasa, 29 Juli 2008

Kepala sekolah seumur hidup di Lamongan

Penerapan periodisasi jabatan kepala sekolah di Lamongan telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan guru dan kepala sekolah. Selama ini, jabatan kepala sekolah adalah jabatan seumur hidup. Kalau tidak mati atau pensiun, kepala sekolah tidak akan berhenti menjabat. Akibatnya, guru-guru seperti hidup dalam botol kecap. Badannya besar, lehernya mengecil dan hanya ada sedikit lobang keluar. Ribuan guru dari golongan III D sampai IV B telah antri bertahun tahun untuk mencicipi jabatan prestisius ini. Namun kenyataannya, ketika Pemda Lamongan menerapkan periodisasi jabatan ini, banyak kepala sekolah yang menolaknya. Tentu saja, dilengserkan koq menerima.
Di sisi lain, periodisasi ini menjadi udara segar bagi semua guru. Bagaikan naik bis yang AC-nya mati, kemudian AC-nya bisa nyala kembali. Semua menjadi bergairah bekerja kembali. Tiba-tiba guru yang sudah 'sepuh-sepuh' bisa tersenyum kembali. Guru-guru muda yang idealis maupun sok idealis mulai punya harapan baru. Golongan tua sudah dianggap gagal dan ketinggalan jaman. Sudah tidak bisa diajak mikir MPMBS, KTSP, aneka model pembelajaran, kelas bilingual, moving class, kelas olimpiade, transparansi keuangan dan tetek bengek lainya. Periodisasi dianggap menjadi lokomotif penggerak bagi kemajuan pendidikan di Lamongan.
Melihat penolakan ratusan kepala SD yang tidak mau diganti, lucunya tetap menganggap dirinya kepala di SD-nya, seharusnya pemerintah harus bertindak tegas. SK sudah diturunkan. Kepala SD yang baru sudah dilantik. Mengapa kemudian menjadi tumpul. Kalau dasar hukum periodisasi ada, mengapa harus takut. Kepala desa ada batas waktunya, bupati sampai presiden juga ada batasnya. Lha ini pingin jadi kepala sekolah seumur hidup. Gejolak adalah biasa. Tetapi memberi harapan baru, suasana baru, manajemen baru, gaya leadership baru, kreatifitas dan inovasi baru akan banyak membawa dampak positif daripada negatifnya. Biarlah kepala sekolah yang baru menjabat dengan diawasi mantan kepala sekolah. Sehingga lebih berhati-hati dan lebih terpacu untuk bekerja. Change for better life.

Selasa, 22 Juli 2008

TEACHING MEDIA ‘COMMUNICATION CARD IN A MAGIC BAG’

TEACHING MEDIA

‘COMMUNICATION CARD IN A MAGIC BAG’

1. MAGIC BAG : a bag made from a gift paper and stuck on the wall or on the buffalo paper

It can be filled anything that related to the topic given, for example:

Candy, pencil, picture, pieces of a word, a sentence or a text.




2. COMMUNICATION CARD: pieces of a word, a sentence, a dialog, a paragraph or a text that can be used for students to work together (in groups). Students should rearrange the jumble alphabet into a good word, the jumble sentences into a good paragraph and so on.

Do you know a big animal that has two ivories and a long trunk?

Its body is very big. Maybe it is the biggest animal in the world




An example of a game in a reading class

  1. Students are divided into small groups of 4 students
  2. The representative of a group takes a piece of paper in the magic bag that consists of a paragraph of a descriptive text
  3. Students discuss the meaning of the paragraph
  4. a student in each group goes forward to tell the meaning and arrange the jumble paragraphs into a good text
  5. students discuss it and the teacher gives a clue when they get difficulty to arrange it.
  6. the teacher gives questions based on the text
  7. students answer it and then to get ingoing assessment, they exchange their work with other students
  8. students write down the answer on the whiteboard and the teacher corrects it
  9. the top five students who get the highest score may take the reward in a magic bag. They get candies.

Note:

Communication card can be used in speaking class as well as reading class. The more creative a teacher, the more interesting a class will be.

R. Chusnu Yuli Setyo, M.Pd

Persela pun Bisa seperti Manchester United

Persela pun Bisa seperti Manchester United

Oleh: R. CHUSNU YULI SETYO, M.Pd.*

---------

Tulisan ini sengaja saya persembahkan pada Persela Lamongan sebagai hasil oleh-oleh berkunjung ke berbagai stadiun sepakbola terkenal di negeri Sang Ratu, Inggris, terutama stadiun Old Traford, MU. Bagaimana cara mereka menambah income? Itu yang ingin penulis kemukakan di sini.

Sebagai duta bangsa untuk memperkenalkan Islam Indonesia yang ramah, bukan marah-marah, penulis dan kesebelas peserta lainnya (wakil dari pesantren NU se Indonesia) merasa sangat beruntung karena mendapat kehormatan sebagai tamu negara di negeri Putri Diana, Inggris. Disamping belajar ilmu manajemen pendidikan di Leeds University, salah satu universitas terbaik di dunia, penulis juga dijamu (diundang) oleh Duta Besar RI, British Council, University of Birmingham, Threefaiths-Forum, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri (Foreign Affairs Ministre) urusan Negara Non Arab semuanya di kota London. Ketika di dalam gedung kementrian LN inilah penulis bisa melihat kediaman PM Tony Blair dalam jarak beberapa meter saja. Semua biaya kedua belas peserta ini berasal dari kementrian LN melalui British Embassy yang ada di Jakarta. Dan karena tim kami dianggap sukses, bulan Pebruari 2007, ada 25 kyai NU atau kepala sekolah akan dikirim lagi ke Inggris untuk belajar manejemen dan memperkenalkan Islam Indonesia yang ramah dan yang bisa jadi rahmatan lil alamin bagi semua pihak. Selama di Inggris, disela-sela kesibukannya, penulis meluangkan waktu berkunjung ke beberapa stadiun sepak bola terkenal di sana. Itu yang ingin penulis sampaikan di sini.

Berkunjung ke Inggris, tentu tidak lengkap kalau belum melihat sepak bola di salah satu klub terkenal di sana. Sebut saja Manchester United, Liverpool, Arsenal, Chelsea, Aston Villa dan masih banyak lainnya. Sayangnya untuk mendapatkan tiket masuk sulitnya minta ampun. Meskipun sudah pesan pada teman yang sedang studi di sana, tetap saja tidak bisa mendapatkan tiket tersebut. “Wah, biasanya tiga bulan sebelumnya tiket sudah habis, Mas.” Kata Bayu asal Surabaya, mahasiswa Jurusan Perhubungan di Leeds University. Kalaupun ada harganya selangit dari para calo. Bisa sampai 100 Pounds, yah sekitar 1,5 juta. Itu pun untuk partai yang tidak menarik. Kalau partai MU melawan Liverpool, bisa-bisa harganya selangit di pasar gelap. Tentu akan menghabiskan uang saku selama di Inggris.

Meskipun tidak bisa melihat pertandingan langsung, penulis dengan kesebelas peserta short course lainnya berupaya tetap bisa mengunjungi markas kesebelasan Leeds FC (Divisi I), Manchester United di Stadiun Old Traford, Stadiun Anvield milik Liverpool, dan Villa Park milik Aston Villa di Birmingham. Kebetulan melihat sepak bola tidak termasuk program yang diberikan British Council, jadi penulis harus mengeluarkan kocek sendiri. Ya, mumpung di sana. Kalau bisa diucapkan, sebetulnya selama ini anak kecil sampai ‘mbah-mbah’ atau tukang becak sampai direktur lebih kenal Manchester United daripada Negara Inggris sendiri. Terus, sepak bola itukan membawa perdamaian global. Maksudnya, muslim di Indonesia marah ketika Inggris terlibat dalam perang Teluk tetapi anehnya mereka juga rela tidak tidur semalaman untuk melihat pertandingan Liga Inggris. Alasan yang ketiga mengapa penulis harus ziarah ke markas club besar di Inggris adalah karena kalau kembali ke Indonesia, tetangga pasti tanya sepak bola lebih dulu, baru tanya hasil belajar manejemen di sana.

Dengan diantar Pak Haddy Gunawan, ahli software komputer asal Jakarta yang sudah bekerja di Huddersfield selama 6 tahun, kami menyaksikan bagaimana mereka memenej semua potensi untuk menyokong pendanaan kesebelasan mereka. Dan bagaimana fans-nya bisa terobati dengan atribut atau sovenir yang dijualnya

Memasuki kota Manchester rasanya hati ini sudah tidak sabar bagaimana bentuk stadiunnya, atau kalau beruntung kan kemungkinan bisa ketemu para bintangnya, seperti Rooney atau Ronaldo. Ketika sampai di lampu merah ada tulisan Old Traford St, ternyata di sebelah kanan jalan sudah ada bangunan yang sangat besar dengan tempat parkir sangat luas. Minggu pagi itu masih sepi. Ada beberapa mobil yang sudah parkir duluan. Tidak ada tukang parkir di sana karena para sopir self-service dengan memasukkan uang parkir ke box di tiang yang ada di tengah-tengah lapangan parkir, kemudian keluar tiket parkirnya. Simple sekali!. Tapi jangan coba-coba tidak bayar karena kamera CCTV ada di setiap sudut yang bekerja selama 24 jam nonstop.

Setelah foto-foto, kami masuk pertokoan yang menjual aneka souvenir. Toko ini ada di dalam bangunan stadiun. Mungkin di bawah tempat duduk penonton. Ternyata semua perlengkapan, seragam, buku, album, CD sampai gantungan kunci ada di sini. Ada catatan kejuaraan yang pernah diraih tertempel didinding. Di langit-langit tergantung TV 21 inci yang memutar gol-gol fenomenal kemenangan MU. Waktu itu pikiran penulis langsung menerawang ke Stadiun Surajaya Lamongan. Seandainya Persela bisa mengemas dengan baik tentu bisa seperti Manchester United ini. Bagaimana cara menggali semua potensi untuk menambah pemasukan ke kas Persela. Jika bisa, tentu luar biasa. Caranya?

Cara pertama yang bisa ditempuh Persela adalah dengan menjual tiket berlangganan, bisa satu musim, enam bulanan, tiga bulanan. Semua ini jatuhnya harus lebih murah kalau dihitung pertiket. Ada bonus khusus bagi yang beli tiket berlangganan ini. Bisa kaos, slayer, mug (cangkir) atau foto bersama dengan pemain yang diidolakan. Atau yang beruntung bisa ikut partai away gratis. Pokoknya berbagai strategi pemasaran dilakukan agar tiket berlangganan ini bisa terbeli. Kalau tiket langganan ini sold out (habis) satu musim, tinggal cari dana yang lain.

Cara kedua menjual souvenir dengan hak paten. Di London, Birmingham, Leeds atau kota lainnya kita juga bisa mendapatkan suvenir MU, Liverpool, Arsenal dan lainnya di toko atau supermarket. Namun hak paten tetap dari kesebelasan tersebut. Kalau di Inggris jangan coba-coba memalsu produk, bisa-bisa bangkrut sampai anak turun kalau diklaim. Suvenir ini bisa berupa kaos dengan nama pemain favorit dan ada tanda tangan asli (harganya lebih mahal daripada yang tidak ada). Slayer panjang atau yang kecil untuk ditempel di mobil. Bola sepak dari plastik, mitasi atau kulit dengan merk Persela. Di Liverpool anak-anak SD membawa bola imitasi (lebih kecil dan ringan). Yang penting sejak dini anak diberi kemudahan dan diberi simbol-simbol kebanggaan klub sepak bola kesayangannya. Di counter-counter (toko) suvenir di stadiun Oldtraford, Anvield atau Villa Park yang kami kunjungi, bendera klub sampai banner disediakan berbagai ukuran. Dari cangkir kecil, mug sampai gelas model piala tersedia. Dari topi anak, kaos dan celana anak sampai ukuran XXL juga ada. Dari gantungan kunci, jam tangan sampai jam dinding juga ada. Dan yang lucu, bahkan permen atau kue kecil juga bermerk Liverpool atau Aston Villa dan harganya cuma 1 pounds perbungkus.

Cara ketiga Persela bisa menyebarkan para pemainnya untuk mendatangi SSB yang tersebar di kota, kecamatan atau desa-desa secara terjadwal. Mereka bisa mendapatkan dana untuk kegiatan itu. Kalau di Inggris, pemain seperti David Beckam sering ke SSB untuk acara bakti sosial dan malah menyumbang bagi anak-anak yang tidak mampu atau cacat. Bagi anak kecil, bertemu dan bermain dengan bintang idolanya tidak akan bisa terlupakan seumur hidup. Kalau Persela mau investasi jangka panjang, apa salahnya ini dicoba. Toh, anak-anak adalah pemain legendaris masa depan.

Cara keempat Persela bisa menjual CD hasil rekaman pertandingan. Bisa berupa compilasi atau rekaman hot spot yang paling menarik di dalam maupun di luar stadiun. CD bisa berupa teknik menendang, dribling, heading atau apa saja yang bisa ditiru dengan mudah oleh anak-anak yang senang main sepak bola. SSB terbaik di Lamongan bisa dilibatkan untuk pengambilan gambarnya. Untuk menghindari rugi dari bajakan, pembeli bisa inden lebih dahulu. Kalau marketingnya bagus, pasti banyak yang pesan. Dan yang terpenting targetnya semua anak kecil se Kabupaten Lamongan sudah tahu teknik main sepak bola yang benar sejak kecil. Kalau bisa seperti itu, Lamongan jadi percontohan daerah lain. Hebat, kan?

Keempat cara di atas berdasarkan pengamatan selama di Inggris. Penulis ingin juga kesebelasan Persela besar seperti MU di mana investor malah menawarkan diri bukan malah mencari kesana kemari. Persela jangan setengah-setengah bekerja. Libatkan masyarkat. Kader Khoirul Huda-Khoirul Huda kecil sejak dini. Jadikan Persela ikon kebanggaan bersama masyarakat Lamongan di manapun ia berada. Hidup Persela. Dan Selamat Tahun Baru 2007.

*Penulis adalah peserta Education Management Training di Leeds University, Inggris. Wakil dari Pesantren Sunan Drajat Medali, Sugio Lamongan




Pendidikan Berkualitas Internasional di Lamongan, Mengapa tidak?

Pendidikan Berkualitas Internasional

di Lamongan, Mengapa Tidak?

Oleh: R. CHUSNU YULI SETYO, M.Pd*

-----------------

Bagian tulisan yang kedua ini penulis akan melaporkan hasil institution visit ke beberapa sekolah internasional yang ada di Inggris. Minimal kita akan tahu bagaimana gambaran dunia pendidikan yang banyak jadi rujukan sekolah-sekolah Internasional di Indonesia. Dan apa salahnya membuat sekolah standard internasional di Lamongan?

Program utama training (short course) di Leeds University, Inggris adalah belajar Managemen Pendidikan berdasarkan teori-teori modern plus praktek yang telah dilaksanakan selama ini di Inggris. Pengajarnya orang-orang terbaik di School of Education (FKIP), seperti Prof. Michael Wilson, Maggy Boyle, dan Prof. Hywell Coleman. Bahkan yang terakhir itu adalah konsultan utama pendidikan di Departemen Pendidikan Nasional Jakarta. Mengikuti kuliah mereka bertiga sangat menyenangkan. Di samping sangat menguasai materi, mereka itu ramah, sabar dan sering memberi joke-joke segar. Di antara ketiga itu, hanya Michael Wilson yang belum pernah ke Indonesia.

Materi managemen yang diberikan meliputi Education Management in Indonesian Context, Education management at school, Quality Assurance in Schools (Jamininan mutu di sekolah), Leadership in Schools (Kepemimpinan di sekolah), Staff Management (management staff) yang meliputi rekruitmen pegawai, menyeleksi, orientasi dan mempertahankan pegawai, serta management pengembangan staff dan kinerjanya. Materi yang lainnya adalah School Financing yang meliputi Budget Management and reporting (Penyusunan Anggaran dan pelaporannya), Monitoring and evaluation in Schools dan School Marketing, Funding and Sponsorship. Selain itu, peserta training juga dapat ilmu tambahan tentang Time Management (managemen mengatur waktu), Meeting Management (management mengatur rapat),dan Management in Boarding Schools, sertapPengantar pada metode pengajaran.

Hasil Institution Visit ke Sekolah Internasional

Disamping mendapat teori di kampus, selama di Inggris, peserta training diajak studi banding ke 3 sekolah terkenal dan satu LSM yang menangani Bimbingan Konseling dan karir bagi anak-anak sekolah. Yang pertama ke Temple Moor High School Science College di kota Leeds. Ini adalah sekolah negeri yang menggabungkan sekolah dasar sampai SMU. Jadi murid yang belajar dari usia 7 sampai 18. Mereka lebih suka menyebut Year 1 untuk kelas 1 SD dan Year 11 untuk kelas 3 SMU. Siswa yang sekolah di sini diutamakan yang rumahnya dekat sekolah, meskipun tetap ada tes masuk. Masuk sekolah ini, kami harus mengisi buku tamu dan diberi kartu “Pass” bertuliskan VISITOR yang dikalungkan di leher. Di kartu itu ada aturan yang harus dipatuhi semua pengunjung. Ada aturan tidak boleh berbicara pada siswa dan mengambil gambar mereka tanpa ijin guru dan siswa itu sendiri. Kalau melanggar bisa-bisa harus mampir ke penjara dahulu. Di Inggris, anak-anak sangat dilindungi. Bahkan ada semacam doktrin sejak masih belajar bicara “Don’t talk to a stranger!” (jangan pernah bicara pada orang asing). Intinya, di sekolah itu banyak anak pejabat, politisi, selebritis dan orang-orang kaya yang tidak mau jiwa anaknya terancam karena hanya alasan sekedar foto bersama. Sepertinya berlebihan. Tetapi tidak. Anda tahu sendiri kan, bagaimana Paparazi di sana?

Dengan dipandu Gill Osborne, bendahara sekolah, kami diantar school tour. Di Temple Moore School ini, semua murid berpakaian rapi, dari sepatu, kaos, kaki sampai dasi semua seragam. Karena saat berkunjung itu musim semi, jadi udaranya masih terkadang sangat dingin, sebentar grimis, sebentar hangat. Jadi untuk murid SD diwajibkan pakai sweater, sedang SMU pakai jas biar hangat. Lorong-lorong kelas penuh dengan Mading (majalah dinding), baik berupa pengumuman sampai hasil karya siswa. Di dalam kelas, suasana sangat menyenangkan. Ada computer (internet), audio visual set, LCD, OHP, gambar-gambar, hasil pekerjaan anak, peta, foto kegiatan siswa dan bermacam-macam lainnya. Kantinnya sangat besar dan bersih, jadi kalau istirahat makan siang bisa menampung seluruh siswa di sana. Biaya sekolah sudah termasuk makan siang. Jam istirahat dibuat berbeda untuk SD dan SMU. Kantin bukan milik perorangan atau penjaga sekolah, tetapi sistem kontrak yang ditenderkan dan kebersihannya di awasi oleh dinas kesehatan.. Yang menarik di sekolah ini adalah ada ruang workshop untuk life skill siswa. Nampak di sana jurusan bangunan yang sedang membuat furniture dan almari. Peralatannya super lengkap dan serba mesin. Di ruang sebelahnya ada beberapa siswi sedang mendesain dan menjahit pakain. Di ruang lain ada tempat praktek memasak. Intinya mereka yang sudah kelas 11, diberi ketrampilan hidup (life skill) yang cukup. Ketika lulus mereka bisa langsung kerja atau melanjutkan ke perguruan tinggi. Menurut mereka, gaji lulusan SMA saja sudah bisa digunakan untuk menghidupi anak istri. Saking sejahteranya.

Sekolah yang kedua adalah Mount School di Dalton Terrace, kota York. 30 menit dari kota Leeds. Ini adalah sekolah internasional swasta yang berasrama dan hanya khusus putri. Kalau di Lamongan, ya istilahnya pesantren putri. Sekolah ini dikelola oleh komunitas Kristen Quacker yang terkenal kejujurannya. Yang menarik, meskipun ini sekolah Kristen Quacker, pimpinan sekolah memberikan toleransi khusus pada siswi muslim. Misalnya, mereka diperbolehkan puasa dan disediakan makan sahur. Di sana, mereka banyak menjelaskan bagaimana menjaga mutu sekolah. Setiap tahun lulus 100% dan hampir semua lulusannya masuk perguruan tinggi favorit di Inggris. Stuart Taylor, Marketing Manager-nya, banyak mengulas betapa penting marketing bagi sekolah-sekolah swasta agar tetap hidup. Ternyata kaur humas di sana menjadi bagian yang sangat penting untuk memasarkan sekolah sehingga masyarakat yakin dan percaya pada sekolah tersebut. Bagaimana mengubah image masyarakat bahwa sekolah itu berstandar internasional sehingga siswa dari luar negeripun tertarik untuk belajar di sini. Bagaimana dengan humas sekolah yang ada di Lamongan?

Sekolah Al-Hijrah, di Birmingham adalah sekolah ketiga yang kami kunjungi. Ini adalah salah satu dari enam sekolah negeri Islam (semacam Madrasah Aliyah Negeri) yang ada di Inggris Raya. Ternyata di Inggris ada sekolah Islamnya. Statusnya negeri lagi. Masuk sekolah Al Hijrah, seperti masuk pesantren sendiri. Kalau boleh dibilang, hampir semua managemen ruang kantor, kelas, staff dan lainnya bisa diterapkan di pesantren atau madrasah di Indonesia. Bahkan ada ada salah satu siswanya berasal dari Indonesia. Ada yang menarik di sini, setiap minggu ditempel hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang singkat dan mudah dihapal baik guru, karyawan maupun siswanya. Keunggulannya sama seperti sekolah lain, basis IT (internet) adalah sebuah kebutuhan pokok bagi sekolah-

Sebetulnya suasana dan kelengkapan fasilitas sekolah yang kami kunjungi itu hampir sama kalau kita mengunjungi sekolah internasional Ciputra, Surabaya. Untuk membuat sekolah standard internasional di Lamongan, bukanlah hal yang tidak mungkin. Istilahnya ‘nothing is impossible’. Kalau sekolah-sekolah di Lamongan ingin menuju ke sana maka perlu banyak studi banding ke sekolah internasional baik yang ada di Surabaya atau Jakarta. Pengalaman penulis waktu mengunjungi SD Ciputra 3 tahun yang lalu membuktikan bahwa mereka (guru-guru di sana) sangat senang berbagi ilmu dan pengalaman mengelola sekolah internasional.

Lamongan adalah kota pendidikan. 2100 lebih jumlah sekolah dan madrasah yang ada dan hanya 700an yang milik pemerintah (statusnya negeri). Ini mungkin jumlah institusi pendidikan terbesar di Indonesia. Sudah waktunya Lamongan menjadi acuan dan contoh bagi dunia pendidikan. Untuk itu perlu meningkatkan kualitasnya dan terus ke statusnya.

Dua tahun ini sekolah dan madrasah di Lamongan sedang berkompetisi untuk mendapatkan predikat SSN (sekolah standard nasional). Ini merupakan langkah awal yang baik untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun, jangan sampai predikat itu hanya sekedar ambisi pribadi kepala sekolah, pengawas atau kepala dinasnya. Atau karena proyek ratusan juta di depan mata kalau predikat sudah digenggam. Misi yang mulia ini perlu dipahamkan pada semua praktisi pendidikan, masyarakat dan pemerintah daerah. Sehingga menjadi tanggung jawab bersama untuk mewujudkannya. Kalau SSN sudah didapat, apa salahnya meneruskan misi berikutnya, yaitu menjadi Sekolah Rintisan Berstandard Internasional. Nothing is impossible”. Selamat Tahun Baru 2007.

*Penulis adalah Guru SMPN 4 Lamongan (SSN)

dan PD I FKIP Unisla Lamongan