Blog ini untuk yang peduli pendidikan dan berbagai kebijakan-kebijakan di Kabupaten Lamongan. CHANGE FOR A BETTER LIFE AND MORE QUALIFIED EDUCATION.
Sabtu, 23 Agustus 2008
Bazar hanya pemborosan Biaya Pendidikan
Kegiatan yang berlangsung 3 hari ini ternyata juga menyita tenaga dan pikiran dari para guru. Akibatnya banyak kelas yang lowong tidak ada gurunya karena sibuk mempersiapkan bazar. Seperti juga dampak kegiatan 17 lainnya, murid sekolah banyak yang pulang pagi.
Dengan melihat kenyataan di atas alangkah baiknya bila bazar ditiadakan saja. Murid tidak butuh makanan mahal. Mereka butuh beli buku paket. mereka butuh bayar uang komite. Ini yang lebih penting. Jadi bazar hanya merupakan pemborosan biaya pendidikan.
Jumat, 15 Agustus 2008
MENGAPA GURU BERPRESTASI TIDAK DIPERHATIKAN?
Tetapi seperti tahun-tahun yang lalu, perwakilan guru berprestasi tidak ada yang diundang untuk duduk di bangku kehormatan. Guru berprestasi atau guru teladan tidak pernah dianggap berjasa di kabupaten yang sedang maju-majunya ini. Guru-guru teladan ini harus puas dengan selembar piagam yang ditandatangani bupati tetapi tidak laku untuk pengajuan angka kredit (PAK). Atau cukup puas karena bisa dijadikan poin untuk menjadi kepala sekolah. Kita harus bangga, NUN rata-rata tertinggi dicapai oleh Lamongan. Seluruh peserta ujian lulus100 % kecuali yang meninggal dunia. Tetapi guru tetap tidak ada artinya atau tidak pernah dianggap dalam momen bersejarah ini di kabupaten tercinta ini. Bukankan untuk jadi pejabat, harus lulus dari sekolah dulu. Lulus sekolah harus dapat ilmu dari guru. Lah ini setelah jadi pejabat, lupa pada jasa guru. kalau yang berprestasi lainnya diumumkan dan diundang, mengapa guru tidak?
Minggu, 03 Agustus 2008
Buku Murah, Malah Jadi Mahal
Sebetulnya kalau dihitung secara finansial, jatuhnya harga ternyata lebih mahal. Biaya rental internet selama lebih kurang 2 jam sekitar 6 ribu. Apalagi kalau downloadnya lama bisa-bisa 3 jam. Biaya nge-print habis 9 ribuan. Jadi kalau ditotal masih sama harganya dengan buku yang dijual dipasaran.
Saya pikir Pemerintah harus lebih realistis dalam menyelesaikan masalah perbukuan ini. Pemerintah tidak boleh 'medit' (pelit) dalam hal mencerdaskan generasi bangsa. Kalau pilihan gubernur habis ratusan milyar, mengapa beli buku dan dibagikan gratis pada murid tidak bisa? Kalau standar penilaian di SMP pada 4 mata pelajaran (Bahasa Indonesia, MTK, Bahasa Inggris dan IPA), mengapa tidak buku-buku itu saja yang dibagikan gratis pada setiap siswa. Yang menjadi pertanyaan adalah pemerintah serius tidak membantu mencerdaskan generasi muda ini? Menyediakan buku gratis saja tidak mampu. Memalukan.
Selasa, 29 Juli 2008
Kepala sekolah seumur hidup di Lamongan
Di sisi lain, periodisasi ini menjadi udara segar bagi semua guru. Bagaikan naik bis yang AC-nya mati, kemudian AC-nya bisa nyala kembali. Semua menjadi bergairah bekerja kembali. Tiba-tiba guru yang sudah 'sepuh-sepuh' bisa tersenyum kembali. Guru-guru muda yang idealis maupun sok idealis mulai punya harapan baru. Golongan tua sudah dianggap gagal dan ketinggalan jaman. Sudah tidak bisa diajak mikir MPMBS, KTSP, aneka model pembelajaran, kelas bilingual, moving class, kelas olimpiade, transparansi keuangan dan tetek bengek lainya. Periodisasi dianggap menjadi lokomotif penggerak bagi kemajuan pendidikan di Lamongan.
Melihat penolakan ratusan kepala SD yang tidak mau diganti, lucunya tetap menganggap dirinya kepala di SD-nya, seharusnya pemerintah harus bertindak tegas. SK sudah diturunkan. Kepala SD yang baru sudah dilantik. Mengapa kemudian menjadi tumpul. Kalau dasar hukum periodisasi ada, mengapa harus takut. Kepala desa ada batas waktunya, bupati sampai presiden juga ada batasnya. Lha ini pingin jadi kepala sekolah seumur hidup. Gejolak adalah biasa. Tetapi memberi harapan baru, suasana baru, manajemen baru, gaya leadership baru, kreatifitas dan inovasi baru akan banyak membawa dampak positif daripada negatifnya. Biarlah kepala sekolah yang baru menjabat dengan diawasi mantan kepala sekolah. Sehingga lebih berhati-hati dan lebih terpacu untuk bekerja. Change for better life.
Selasa, 22 Juli 2008
TEACHING MEDIA ‘COMMUNICATION CARD IN A MAGIC BAG’
TEACHING MEDIA
‘COMMUNICATION CARD IN A MAGIC BAG’
1. MAGIC BAG : a bag made from a gift paper and stuck on the wall or on the buffalo paper
It can be filled anything that related to the topic given, for example:
Candy, pencil, picture, pieces of a word, a sentence or a text.
2. COMMUNICATION CARD: pieces of a word, a sentence, a dialog, a paragraph or a text that can be used for students to work together (in groups). Students should rearrange the jumble alphabet into a good word, the jumble sentences into a good paragraph and so on.
Do you know a big animal that has two ivories and a long trunk? Its body is very big. Maybe it is the biggest animal in the world
An example of a game in a reading class
- Students are divided into small groups of 4 students
- The representative of a group takes a piece of paper in the magic bag that consists of a paragraph of a descriptive text
- Students discuss the meaning of the paragraph
- a student in each group goes forward to tell the meaning and arrange the jumble paragraphs into a good text
- students discuss it and the teacher gives a clue when they get difficulty to arrange it.
- the teacher gives questions based on the text
- students answer it and then to get ingoing assessment, they exchange their work with other students
- students write down the answer on the whiteboard and the teacher corrects it
- the top five students who get the highest score may take the reward in a magic bag. They get candies.
Note:
Communication card can be used in speaking class as well as reading class. The more creative a teacher, the more interesting a class will be.
R. Chusnu Yuli Setyo, M.Pd
Persela pun Bisa seperti Manchester United
Persela pun Bisa seperti Manchester United
Oleh: R. CHUSNU YULI SETYO, M.Pd.*
---------
Tulisan ini sengaja saya persembahkan pada Persela Lamongan sebagai hasil oleh-oleh berkunjung ke berbagai stadiun sepakbola terkenal di negeri Sang Ratu, Inggris, terutama stadiun Old Traford, MU. Bagaimana cara mereka menambah income? Itu yang ingin penulis kemukakan di sini.
Sebagai duta bangsa untuk memperkenalkan Islam Indonesia yang ramah, bukan marah-marah, penulis dan kesebelas peserta lainnya (wakil dari pesantren NU se Indonesia) merasa sangat beruntung karena mendapat kehormatan sebagai tamu negara di negeri Putri Diana, Inggris. Disamping belajar ilmu manajemen pendidikan di Leeds University, salah satu universitas terbaik di dunia, penulis juga dijamu (diundang) oleh Duta Besar RI, British Council, University of Birmingham, Threefaiths-Forum, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri (Foreign Affairs Ministre) urusan Negara Non Arab semuanya di kota London. Ketika di dalam gedung kementrian LN inilah penulis bisa melihat kediaman PM Tony Blair dalam jarak beberapa meter saja. Semua biaya kedua belas peserta ini berasal dari kementrian LN melalui British Embassy yang ada di
Berkunjung ke Inggris, tentu tidak lengkap kalau belum melihat sepak bola di salah satu klub terkenal di
Meskipun tidak bisa melihat pertandingan langsung, penulis dengan kesebelas peserta short course lainnya berupaya tetap bisa mengunjungi markas kesebelasan Leeds FC (Divisi I), Manchester United di Stadiun Old Traford, Stadiun Anvield milik Liverpool, dan Villa Park milik Aston Villa di Birmingham. Kebetulan melihat sepak bola tidak termasuk program yang diberikan British Council, jadi penulis harus mengeluarkan kocek sendiri. Ya, mumpung di
Dengan diantar Pak Haddy Gunawan, ahli software komputer asal Jakarta yang sudah bekerja di Huddersfield selama 6 tahun, kami menyaksikan bagaimana mereka memenej semua potensi untuk menyokong pendanaan kesebelasan mereka. Dan bagaimana fans-nya bisa terobati dengan atribut atau sovenir yang dijualnya
Memasuki
Setelah foto-foto, kami masuk pertokoan yang menjual aneka souvenir. Toko ini ada di dalam bangunan stadiun. Mungkin di bawah tempat duduk penonton. Ternyata semua perlengkapan, seragam, buku, album, CD sampai gantungan kunci ada di sini.
Cara pertama yang bisa ditempuh Persela adalah dengan menjual tiket berlangganan, bisa satu musim, enam bulanan, tiga bulanan. Semua ini jatuhnya harus lebih murah kalau dihitung pertiket. Ada bonus khusus bagi yang beli tiket berlangganan ini. Bisa kaos, slayer, mug (cangkir) atau foto bersama dengan pemain yang diidolakan. Atau yang beruntung bisa ikut partai away gratis. Pokoknya berbagai strategi pemasaran dilakukan agar tiket berlangganan ini bisa terbeli. Kalau tiket langganan ini sold out (habis) satu musim, tinggal cari dana yang lain.
Cara kedua menjual souvenir dengan hak paten. Di London,
Cara ketiga Persela bisa menyebarkan para pemainnya untuk mendatangi SSB yang tersebar di kota, kecamatan atau desa-desa secara terjadwal. Mereka bisa mendapatkan dana untuk kegiatan itu. Kalau di Inggris, pemain seperti David Beckam sering ke SSB untuk acara bakti sosial dan malah menyumbang bagi anak-anak yang tidak mampu atau cacat. Bagi anak kecil, bertemu dan bermain dengan bintang idolanya tidak akan bisa terlupakan seumur hidup. Kalau Persela mau investasi jangka panjang, apa salahnya ini dicoba. Toh, anak-anak adalah pemain legendaris masa depan.
Cara keempat Persela bisa menjual CD hasil rekaman pertandingan. Bisa berupa compilasi atau rekaman hot spot yang paling menarik di dalam maupun di luar stadiun. CD bisa berupa teknik menendang, dribling, heading atau apa saja yang bisa ditiru dengan mudah oleh anak-anak yang senang main sepak bola. SSB terbaik di Lamongan bisa dilibatkan untuk pengambilan gambarnya. Untuk menghindari rugi dari bajakan, pembeli bisa inden lebih dahulu. Kalau marketingnya bagus, pasti banyak yang pesan. Dan yang terpenting targetnya semua anak kecil se Kabupaten Lamongan sudah tahu teknik main sepak bola yang benar sejak kecil. Kalau bisa seperti itu, Lamongan jadi percontohan daerah lain. Hebat, kan?
Keempat cara di atas berdasarkan pengamatan selama di Inggris. Penulis ingin juga kesebelasan Persela besar seperti MU di mana investor malah menawarkan diri bukan malah mencari kesana kemari. Persela jangan setengah-setengah bekerja. Libatkan masyarkat. Kader Khoirul Huda-Khoirul Huda kecil sejak dini. Jadikan Persela ikon kebanggaan bersama masyarakat Lamongan di manapun ia berada. Hidup Persela. Dan Selamat Tahun Baru 2007.
*Penulis adalah peserta Education Management Training di Leeds University, Inggris. Wakil dari Pesantren Sunan Drajat Medali, Sugio Lamongan
Pendidikan Berkualitas Internasional di Lamongan, Mengapa tidak?
Pendidikan Berkualitas Internasional
di Lamongan, Mengapa Tidak?
Oleh: R. CHUSNU YULI SETYO, M.Pd*
-----------------
Bagian tulisan yang kedua ini penulis akan melaporkan hasil institution visit ke beberapa sekolah internasional yang ada di Inggris. Minimal kita akan tahu bagaimana gambaran dunia pendidikan yang banyak jadi rujukan sekolah-sekolah Internasional di Indonesia. Dan apa salahnya membuat sekolah standard internasional di Lamongan?
Program utama training (short course) di
Materi managemen yang diberikan meliputi Education Management in Indonesian Context, Education management at school, Quality Assurance in Schools (Jamininan mutu di sekolah), Leadership in Schools (Kepemimpinan di sekolah), Staff Management (management staff) yang meliputi rekruitmen pegawai, menyeleksi, orientasi dan mempertahankan pegawai, serta management pengembangan staff dan kinerjanya. Materi yang lainnya adalah School Financing yang meliputi Budget Management and reporting (Penyusunan Anggaran dan pelaporannya), Monitoring and evaluation in Schools dan School Marketing, Funding and Sponsorship. Selain itu, peserta training juga dapat ilmu tambahan tentang Time Management (managemen mengatur waktu), Meeting Management (management mengatur rapat),dan Management in Boarding Schools, sertapPengantar pada metode pengajaran.
Hasil Institution Visit ke Sekolah Internasional
Disamping mendapat teori di kampus, selama di Inggris, peserta training diajak studi banding ke 3 sekolah terkenal dan satu LSM yang menangani Bimbingan Konseling dan karir bagi anak-anak sekolah. Yang pertama ke Temple Moor High School Science College di
Dengan dipandu Gill Osborne, bendahara sekolah, kami diantar school tour. Di Temple Moore School ini, semua murid berpakaian rapi, dari sepatu, kaos, kaki sampai dasi semua seragam. Karena saat berkunjung itu musim semi, jadi udaranya masih terkadang sangat dingin, sebentar grimis, sebentar hangat. Jadi untuk murid SD diwajibkan pakai sweater, sedang SMU pakai jas biar hangat. Lorong-lorong kelas penuh dengan Mading (majalah dinding), baik berupa pengumuman sampai hasil karya siswa. Di dalam kelas, suasana sangat menyenangkan.
Sekolah yang kedua adalah Mount School di Dalton Terrace,
Sekolah Al-Hijrah, di Birmingham adalah sekolah ketiga yang kami kunjungi. Ini adalah salah satu dari enam sekolah negeri Islam (semacam Madrasah Aliyah Negeri) yang ada di Inggris Raya. Ternyata di Inggris ada sekolah Islamnya. Statusnya negeri lagi. Masuk sekolah Al Hijrah, seperti masuk pesantren sendiri. Kalau boleh dibilang, hampir semua managemen ruang kantor, kelas, staff dan lainnya bisa diterapkan di pesantren atau madrasah di
Sebetulnya suasana dan kelengkapan fasilitas sekolah yang kami kunjungi itu hampir sama kalau kita mengunjungi sekolah internasional Ciputra,
Lamongan adalah
Dua tahun ini sekolah dan madrasah di Lamongan sedang berkompetisi untuk mendapatkan predikat SSN (sekolah standard nasional). Ini merupakan langkah awal yang baik untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun, jangan sampai predikat itu hanya sekedar ambisi pribadi kepala sekolah, pengawas atau kepala dinasnya. Atau karena proyek ratusan juta di depan mata kalau predikat sudah digenggam. Misi yang mulia ini perlu dipahamkan pada semua praktisi pendidikan, masyarakat dan pemerintah daerah. Sehingga menjadi tanggung jawab bersama untuk mewujudkannya. Kalau SSN sudah didapat, apa salahnya meneruskan misi berikutnya, yaitu menjadi Sekolah Rintisan Berstandard Internasional. “Nothing is impossible”. Selamat Tahun Baru 2007.
*Penulis adalah Guru SMPN 4 Lamongan (SSN)
dan PD I FKIP Unisla Lamongan