Selasa, 29 Juli 2008

Kepala sekolah seumur hidup di Lamongan

Penerapan periodisasi jabatan kepala sekolah di Lamongan telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan guru dan kepala sekolah. Selama ini, jabatan kepala sekolah adalah jabatan seumur hidup. Kalau tidak mati atau pensiun, kepala sekolah tidak akan berhenti menjabat. Akibatnya, guru-guru seperti hidup dalam botol kecap. Badannya besar, lehernya mengecil dan hanya ada sedikit lobang keluar. Ribuan guru dari golongan III D sampai IV B telah antri bertahun tahun untuk mencicipi jabatan prestisius ini. Namun kenyataannya, ketika Pemda Lamongan menerapkan periodisasi jabatan ini, banyak kepala sekolah yang menolaknya. Tentu saja, dilengserkan koq menerima.
Di sisi lain, periodisasi ini menjadi udara segar bagi semua guru. Bagaikan naik bis yang AC-nya mati, kemudian AC-nya bisa nyala kembali. Semua menjadi bergairah bekerja kembali. Tiba-tiba guru yang sudah 'sepuh-sepuh' bisa tersenyum kembali. Guru-guru muda yang idealis maupun sok idealis mulai punya harapan baru. Golongan tua sudah dianggap gagal dan ketinggalan jaman. Sudah tidak bisa diajak mikir MPMBS, KTSP, aneka model pembelajaran, kelas bilingual, moving class, kelas olimpiade, transparansi keuangan dan tetek bengek lainya. Periodisasi dianggap menjadi lokomotif penggerak bagi kemajuan pendidikan di Lamongan.
Melihat penolakan ratusan kepala SD yang tidak mau diganti, lucunya tetap menganggap dirinya kepala di SD-nya, seharusnya pemerintah harus bertindak tegas. SK sudah diturunkan. Kepala SD yang baru sudah dilantik. Mengapa kemudian menjadi tumpul. Kalau dasar hukum periodisasi ada, mengapa harus takut. Kepala desa ada batas waktunya, bupati sampai presiden juga ada batasnya. Lha ini pingin jadi kepala sekolah seumur hidup. Gejolak adalah biasa. Tetapi memberi harapan baru, suasana baru, manajemen baru, gaya leadership baru, kreatifitas dan inovasi baru akan banyak membawa dampak positif daripada negatifnya. Biarlah kepala sekolah yang baru menjabat dengan diawasi mantan kepala sekolah. Sehingga lebih berhati-hati dan lebih terpacu untuk bekerja. Change for better life.

1 komentar:

prasetyobpn.blogspot.com mengatakan...

Masalahnya Kepala Sekolah yang diganti(mantan) merasa tidak di "orang"kan, non job lagi....kalo mau cari solusi jangan mengorbankan yg lainnya.....okey.