Persela pun Bisa seperti Manchester United
Oleh: R. CHUSNU YULI SETYO, M.Pd.*
---------
Tulisan ini sengaja saya persembahkan pada Persela Lamongan sebagai hasil oleh-oleh berkunjung ke berbagai stadiun sepakbola terkenal di negeri Sang Ratu, Inggris, terutama stadiun Old Traford, MU. Bagaimana cara mereka menambah income? Itu yang ingin penulis kemukakan di sini.
Sebagai duta bangsa untuk memperkenalkan Islam Indonesia yang ramah, bukan marah-marah, penulis dan kesebelas peserta lainnya (wakil dari pesantren NU se Indonesia) merasa sangat beruntung karena mendapat kehormatan sebagai tamu negara di negeri Putri Diana, Inggris. Disamping belajar ilmu manajemen pendidikan di Leeds University, salah satu universitas terbaik di dunia, penulis juga dijamu (diundang) oleh Duta Besar RI, British Council, University of Birmingham, Threefaiths-Forum, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri (Foreign Affairs Ministre) urusan Negara Non Arab semuanya di kota London. Ketika di dalam gedung kementrian LN inilah penulis bisa melihat kediaman PM Tony Blair dalam jarak beberapa meter saja. Semua biaya kedua belas peserta ini berasal dari kementrian LN melalui British Embassy yang ada di
Berkunjung ke Inggris, tentu tidak lengkap kalau belum melihat sepak bola di salah satu klub terkenal di
Meskipun tidak bisa melihat pertandingan langsung, penulis dengan kesebelas peserta short course lainnya berupaya tetap bisa mengunjungi markas kesebelasan Leeds FC (Divisi I), Manchester United di Stadiun Old Traford, Stadiun Anvield milik Liverpool, dan Villa Park milik Aston Villa di Birmingham. Kebetulan melihat sepak bola tidak termasuk program yang diberikan British Council, jadi penulis harus mengeluarkan kocek sendiri. Ya, mumpung di
Dengan diantar Pak Haddy Gunawan, ahli software komputer asal Jakarta yang sudah bekerja di Huddersfield selama 6 tahun, kami menyaksikan bagaimana mereka memenej semua potensi untuk menyokong pendanaan kesebelasan mereka. Dan bagaimana fans-nya bisa terobati dengan atribut atau sovenir yang dijualnya
Memasuki
Setelah foto-foto, kami masuk pertokoan yang menjual aneka souvenir. Toko ini ada di dalam bangunan stadiun. Mungkin di bawah tempat duduk penonton. Ternyata semua perlengkapan, seragam, buku, album, CD sampai gantungan kunci ada di sini.
Cara pertama yang bisa ditempuh Persela adalah dengan menjual tiket berlangganan, bisa satu musim, enam bulanan, tiga bulanan. Semua ini jatuhnya harus lebih murah kalau dihitung pertiket. Ada bonus khusus bagi yang beli tiket berlangganan ini. Bisa kaos, slayer, mug (cangkir) atau foto bersama dengan pemain yang diidolakan. Atau yang beruntung bisa ikut partai away gratis. Pokoknya berbagai strategi pemasaran dilakukan agar tiket berlangganan ini bisa terbeli. Kalau tiket langganan ini sold out (habis) satu musim, tinggal cari dana yang lain.
Cara kedua menjual souvenir dengan hak paten. Di London,
Cara ketiga Persela bisa menyebarkan para pemainnya untuk mendatangi SSB yang tersebar di kota, kecamatan atau desa-desa secara terjadwal. Mereka bisa mendapatkan dana untuk kegiatan itu. Kalau di Inggris, pemain seperti David Beckam sering ke SSB untuk acara bakti sosial dan malah menyumbang bagi anak-anak yang tidak mampu atau cacat. Bagi anak kecil, bertemu dan bermain dengan bintang idolanya tidak akan bisa terlupakan seumur hidup. Kalau Persela mau investasi jangka panjang, apa salahnya ini dicoba. Toh, anak-anak adalah pemain legendaris masa depan.
Cara keempat Persela bisa menjual CD hasil rekaman pertandingan. Bisa berupa compilasi atau rekaman hot spot yang paling menarik di dalam maupun di luar stadiun. CD bisa berupa teknik menendang, dribling, heading atau apa saja yang bisa ditiru dengan mudah oleh anak-anak yang senang main sepak bola. SSB terbaik di Lamongan bisa dilibatkan untuk pengambilan gambarnya. Untuk menghindari rugi dari bajakan, pembeli bisa inden lebih dahulu. Kalau marketingnya bagus, pasti banyak yang pesan. Dan yang terpenting targetnya semua anak kecil se Kabupaten Lamongan sudah tahu teknik main sepak bola yang benar sejak kecil. Kalau bisa seperti itu, Lamongan jadi percontohan daerah lain. Hebat, kan?
Keempat cara di atas berdasarkan pengamatan selama di Inggris. Penulis ingin juga kesebelasan Persela besar seperti MU di mana investor malah menawarkan diri bukan malah mencari kesana kemari. Persela jangan setengah-setengah bekerja. Libatkan masyarkat. Kader Khoirul Huda-Khoirul Huda kecil sejak dini. Jadikan Persela ikon kebanggaan bersama masyarakat Lamongan di manapun ia berada. Hidup Persela. Dan Selamat Tahun Baru 2007.
*Penulis adalah peserta Education Management Training di Leeds University, Inggris. Wakil dari Pesantren Sunan Drajat Medali, Sugio Lamongan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar