Selasa, 22 Juli 2008

Persela pun Bisa seperti Manchester United

Persela pun Bisa seperti Manchester United

Oleh: R. CHUSNU YULI SETYO, M.Pd.*

---------

Tulisan ini sengaja saya persembahkan pada Persela Lamongan sebagai hasil oleh-oleh berkunjung ke berbagai stadiun sepakbola terkenal di negeri Sang Ratu, Inggris, terutama stadiun Old Traford, MU. Bagaimana cara mereka menambah income? Itu yang ingin penulis kemukakan di sini.

Sebagai duta bangsa untuk memperkenalkan Islam Indonesia yang ramah, bukan marah-marah, penulis dan kesebelas peserta lainnya (wakil dari pesantren NU se Indonesia) merasa sangat beruntung karena mendapat kehormatan sebagai tamu negara di negeri Putri Diana, Inggris. Disamping belajar ilmu manajemen pendidikan di Leeds University, salah satu universitas terbaik di dunia, penulis juga dijamu (diundang) oleh Duta Besar RI, British Council, University of Birmingham, Threefaiths-Forum, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri (Foreign Affairs Ministre) urusan Negara Non Arab semuanya di kota London. Ketika di dalam gedung kementrian LN inilah penulis bisa melihat kediaman PM Tony Blair dalam jarak beberapa meter saja. Semua biaya kedua belas peserta ini berasal dari kementrian LN melalui British Embassy yang ada di Jakarta. Dan karena tim kami dianggap sukses, bulan Pebruari 2007, ada 25 kyai NU atau kepala sekolah akan dikirim lagi ke Inggris untuk belajar manejemen dan memperkenalkan Islam Indonesia yang ramah dan yang bisa jadi rahmatan lil alamin bagi semua pihak. Selama di Inggris, disela-sela kesibukannya, penulis meluangkan waktu berkunjung ke beberapa stadiun sepak bola terkenal di sana. Itu yang ingin penulis sampaikan di sini.

Berkunjung ke Inggris, tentu tidak lengkap kalau belum melihat sepak bola di salah satu klub terkenal di sana. Sebut saja Manchester United, Liverpool, Arsenal, Chelsea, Aston Villa dan masih banyak lainnya. Sayangnya untuk mendapatkan tiket masuk sulitnya minta ampun. Meskipun sudah pesan pada teman yang sedang studi di sana, tetap saja tidak bisa mendapatkan tiket tersebut. “Wah, biasanya tiga bulan sebelumnya tiket sudah habis, Mas.” Kata Bayu asal Surabaya, mahasiswa Jurusan Perhubungan di Leeds University. Kalaupun ada harganya selangit dari para calo. Bisa sampai 100 Pounds, yah sekitar 1,5 juta. Itu pun untuk partai yang tidak menarik. Kalau partai MU melawan Liverpool, bisa-bisa harganya selangit di pasar gelap. Tentu akan menghabiskan uang saku selama di Inggris.

Meskipun tidak bisa melihat pertandingan langsung, penulis dengan kesebelas peserta short course lainnya berupaya tetap bisa mengunjungi markas kesebelasan Leeds FC (Divisi I), Manchester United di Stadiun Old Traford, Stadiun Anvield milik Liverpool, dan Villa Park milik Aston Villa di Birmingham. Kebetulan melihat sepak bola tidak termasuk program yang diberikan British Council, jadi penulis harus mengeluarkan kocek sendiri. Ya, mumpung di sana. Kalau bisa diucapkan, sebetulnya selama ini anak kecil sampai ‘mbah-mbah’ atau tukang becak sampai direktur lebih kenal Manchester United daripada Negara Inggris sendiri. Terus, sepak bola itukan membawa perdamaian global. Maksudnya, muslim di Indonesia marah ketika Inggris terlibat dalam perang Teluk tetapi anehnya mereka juga rela tidak tidur semalaman untuk melihat pertandingan Liga Inggris. Alasan yang ketiga mengapa penulis harus ziarah ke markas club besar di Inggris adalah karena kalau kembali ke Indonesia, tetangga pasti tanya sepak bola lebih dulu, baru tanya hasil belajar manejemen di sana.

Dengan diantar Pak Haddy Gunawan, ahli software komputer asal Jakarta yang sudah bekerja di Huddersfield selama 6 tahun, kami menyaksikan bagaimana mereka memenej semua potensi untuk menyokong pendanaan kesebelasan mereka. Dan bagaimana fans-nya bisa terobati dengan atribut atau sovenir yang dijualnya

Memasuki kota Manchester rasanya hati ini sudah tidak sabar bagaimana bentuk stadiunnya, atau kalau beruntung kan kemungkinan bisa ketemu para bintangnya, seperti Rooney atau Ronaldo. Ketika sampai di lampu merah ada tulisan Old Traford St, ternyata di sebelah kanan jalan sudah ada bangunan yang sangat besar dengan tempat parkir sangat luas. Minggu pagi itu masih sepi. Ada beberapa mobil yang sudah parkir duluan. Tidak ada tukang parkir di sana karena para sopir self-service dengan memasukkan uang parkir ke box di tiang yang ada di tengah-tengah lapangan parkir, kemudian keluar tiket parkirnya. Simple sekali!. Tapi jangan coba-coba tidak bayar karena kamera CCTV ada di setiap sudut yang bekerja selama 24 jam nonstop.

Setelah foto-foto, kami masuk pertokoan yang menjual aneka souvenir. Toko ini ada di dalam bangunan stadiun. Mungkin di bawah tempat duduk penonton. Ternyata semua perlengkapan, seragam, buku, album, CD sampai gantungan kunci ada di sini. Ada catatan kejuaraan yang pernah diraih tertempel didinding. Di langit-langit tergantung TV 21 inci yang memutar gol-gol fenomenal kemenangan MU. Waktu itu pikiran penulis langsung menerawang ke Stadiun Surajaya Lamongan. Seandainya Persela bisa mengemas dengan baik tentu bisa seperti Manchester United ini. Bagaimana cara menggali semua potensi untuk menambah pemasukan ke kas Persela. Jika bisa, tentu luar biasa. Caranya?

Cara pertama yang bisa ditempuh Persela adalah dengan menjual tiket berlangganan, bisa satu musim, enam bulanan, tiga bulanan. Semua ini jatuhnya harus lebih murah kalau dihitung pertiket. Ada bonus khusus bagi yang beli tiket berlangganan ini. Bisa kaos, slayer, mug (cangkir) atau foto bersama dengan pemain yang diidolakan. Atau yang beruntung bisa ikut partai away gratis. Pokoknya berbagai strategi pemasaran dilakukan agar tiket berlangganan ini bisa terbeli. Kalau tiket langganan ini sold out (habis) satu musim, tinggal cari dana yang lain.

Cara kedua menjual souvenir dengan hak paten. Di London, Birmingham, Leeds atau kota lainnya kita juga bisa mendapatkan suvenir MU, Liverpool, Arsenal dan lainnya di toko atau supermarket. Namun hak paten tetap dari kesebelasan tersebut. Kalau di Inggris jangan coba-coba memalsu produk, bisa-bisa bangkrut sampai anak turun kalau diklaim. Suvenir ini bisa berupa kaos dengan nama pemain favorit dan ada tanda tangan asli (harganya lebih mahal daripada yang tidak ada). Slayer panjang atau yang kecil untuk ditempel di mobil. Bola sepak dari plastik, mitasi atau kulit dengan merk Persela. Di Liverpool anak-anak SD membawa bola imitasi (lebih kecil dan ringan). Yang penting sejak dini anak diberi kemudahan dan diberi simbol-simbol kebanggaan klub sepak bola kesayangannya. Di counter-counter (toko) suvenir di stadiun Oldtraford, Anvield atau Villa Park yang kami kunjungi, bendera klub sampai banner disediakan berbagai ukuran. Dari cangkir kecil, mug sampai gelas model piala tersedia. Dari topi anak, kaos dan celana anak sampai ukuran XXL juga ada. Dari gantungan kunci, jam tangan sampai jam dinding juga ada. Dan yang lucu, bahkan permen atau kue kecil juga bermerk Liverpool atau Aston Villa dan harganya cuma 1 pounds perbungkus.

Cara ketiga Persela bisa menyebarkan para pemainnya untuk mendatangi SSB yang tersebar di kota, kecamatan atau desa-desa secara terjadwal. Mereka bisa mendapatkan dana untuk kegiatan itu. Kalau di Inggris, pemain seperti David Beckam sering ke SSB untuk acara bakti sosial dan malah menyumbang bagi anak-anak yang tidak mampu atau cacat. Bagi anak kecil, bertemu dan bermain dengan bintang idolanya tidak akan bisa terlupakan seumur hidup. Kalau Persela mau investasi jangka panjang, apa salahnya ini dicoba. Toh, anak-anak adalah pemain legendaris masa depan.

Cara keempat Persela bisa menjual CD hasil rekaman pertandingan. Bisa berupa compilasi atau rekaman hot spot yang paling menarik di dalam maupun di luar stadiun. CD bisa berupa teknik menendang, dribling, heading atau apa saja yang bisa ditiru dengan mudah oleh anak-anak yang senang main sepak bola. SSB terbaik di Lamongan bisa dilibatkan untuk pengambilan gambarnya. Untuk menghindari rugi dari bajakan, pembeli bisa inden lebih dahulu. Kalau marketingnya bagus, pasti banyak yang pesan. Dan yang terpenting targetnya semua anak kecil se Kabupaten Lamongan sudah tahu teknik main sepak bola yang benar sejak kecil. Kalau bisa seperti itu, Lamongan jadi percontohan daerah lain. Hebat, kan?

Keempat cara di atas berdasarkan pengamatan selama di Inggris. Penulis ingin juga kesebelasan Persela besar seperti MU di mana investor malah menawarkan diri bukan malah mencari kesana kemari. Persela jangan setengah-setengah bekerja. Libatkan masyarkat. Kader Khoirul Huda-Khoirul Huda kecil sejak dini. Jadikan Persela ikon kebanggaan bersama masyarakat Lamongan di manapun ia berada. Hidup Persela. Dan Selamat Tahun Baru 2007.

*Penulis adalah peserta Education Management Training di Leeds University, Inggris. Wakil dari Pesantren Sunan Drajat Medali, Sugio Lamongan




Tidak ada komentar: