Pendidikan Berkualitas Internasional
di Lamongan, Mengapa Tidak?
Oleh: R. CHUSNU YULI SETYO, M.Pd*
-----------------
Bagian tulisan yang kedua ini penulis akan melaporkan hasil institution visit ke beberapa sekolah internasional yang ada di Inggris. Minimal kita akan tahu bagaimana gambaran dunia pendidikan yang banyak jadi rujukan sekolah-sekolah Internasional di Indonesia. Dan apa salahnya membuat sekolah standard internasional di Lamongan?
Program utama training (short course) di Leeds University, Inggris adalah belajar Managemen Pendidikan berdasarkan teori-teori modern plus praktek yang telah dilaksanakan selama ini di Inggris. Pengajarnya orang-orang terbaik di School of Education (FKIP), seperti Prof. Michael Wilson, Maggy Boyle, dan Prof. Hywell Coleman. Bahkan yang terakhir itu adalah konsultan utama pendidikan di Departemen Pendidikan Nasional Jakarta. Mengikuti kuliah mereka bertiga sangat menyenangkan. Di samping sangat menguasai materi, mereka itu ramah, sabar dan sering memberi joke-joke segar. Di antara ketiga itu, hanya Michael Wilson yang belum pernah ke Indonesia.
Materi managemen yang diberikan meliputi Education Management in Indonesian Context, Education management at school, Quality Assurance in Schools (Jamininan mutu di sekolah), Leadership in Schools (Kepemimpinan di sekolah), Staff Management (management staff) yang meliputi rekruitmen pegawai, menyeleksi, orientasi dan mempertahankan pegawai, serta management pengembangan staff dan kinerjanya. Materi yang lainnya adalah School Financing yang meliputi Budget Management and reporting (Penyusunan Anggaran dan pelaporannya), Monitoring and evaluation in Schools dan School Marketing, Funding and Sponsorship. Selain itu, peserta training juga dapat ilmu tambahan tentang Time Management (managemen mengatur waktu), Meeting Management (management mengatur rapat),dan Management in Boarding Schools, sertapPengantar pada metode pengajaran.
Hasil Institution Visit ke Sekolah Internasional
Disamping mendapat teori di kampus, selama di Inggris, peserta training diajak studi banding ke 3 sekolah terkenal dan satu LSM yang menangani Bimbingan Konseling dan karir bagi anak-anak sekolah. Yang pertama ke Temple Moor High School Science College di kota Leeds. Ini adalah sekolah negeri yang menggabungkan sekolah dasar sampai SMU. Jadi murid yang belajar dari usia 7 sampai 18. Mereka lebih suka menyebut Year 1 untuk kelas 1 SD dan Year 11 untuk kelas 3 SMU. Siswa yang sekolah di sini diutamakan yang rumahnya dekat sekolah, meskipun tetap ada tes masuk. Masuk sekolah ini, kami harus mengisi buku tamu dan diberi kartu “Pass” bertuliskan VISITOR yang dikalungkan di leher. Di kartu itu ada aturan yang harus dipatuhi semua pengunjung. Ada aturan tidak boleh berbicara pada siswa dan mengambil gambar mereka tanpa ijin guru dan siswa itu sendiri. Kalau melanggar bisa-bisa harus mampir ke penjara dahulu. Di Inggris, anak-anak sangat dilindungi. Bahkan ada semacam doktrin sejak masih belajar bicara “Don’t talk to a stranger!” (jangan pernah bicara pada orang asing). Intinya, di sekolah itu banyak anak pejabat, politisi, selebritis dan orang-orang kaya yang tidak mau jiwa anaknya terancam karena hanya alasan sekedar foto bersama. Sepertinya berlebihan. Tetapi tidak. Anda tahu sendiri kan, bagaimana Paparazi di sana?
Dengan dipandu Gill Osborne, bendahara sekolah, kami diantar school tour. Di Temple Moore School ini, semua murid berpakaian rapi, dari sepatu, kaos, kaki sampai dasi semua seragam. Karena saat berkunjung itu musim semi, jadi udaranya masih terkadang sangat dingin, sebentar grimis, sebentar hangat. Jadi untuk murid SD diwajibkan pakai sweater, sedang SMU pakai jas biar hangat. Lorong-lorong kelas penuh dengan Mading (majalah dinding), baik berupa pengumuman sampai hasil karya siswa. Di dalam kelas, suasana sangat menyenangkan. Ada computer (internet), audio visual set, LCD, OHP, gambar-gambar, hasil pekerjaan anak, peta, foto kegiatan siswa dan bermacam-macam lainnya. Kantinnya sangat besar dan bersih, jadi kalau istirahat makan siang bisa menampung seluruh siswa di sana. Biaya sekolah sudah termasuk makan siang. Jam istirahat dibuat berbeda untuk SD dan SMU. Kantin bukan milik perorangan atau penjaga sekolah, tetapi sistem kontrak yang ditenderkan dan kebersihannya di awasi oleh dinas kesehatan.. Yang menarik di sekolah ini adalah ada ruang workshop untuk life skill siswa. Nampak di sana jurusan bangunan yang sedang membuat furniture dan almari. Peralatannya super lengkap dan serba mesin. Di ruang sebelahnya ada beberapa siswi sedang mendesain dan menjahit pakain. Di ruang lain ada tempat praktek memasak. Intinya mereka yang sudah kelas 11, diberi ketrampilan hidup (life skill) yang cukup. Ketika lulus mereka bisa langsung kerja atau melanjutkan ke perguruan tinggi. Menurut mereka, gaji lulusan SMA saja sudah bisa digunakan untuk menghidupi anak istri. Saking sejahteranya.
Sekolah yang kedua adalah Mount School di Dalton Terrace, kota York. 30 menit dari kota Leeds. Ini adalah sekolah internasional swasta yang berasrama dan hanya khusus putri. Kalau di Lamongan, ya istilahnya pesantren putri. Sekolah ini dikelola oleh komunitas Kristen Quacker yang terkenal kejujurannya. Yang menarik, meskipun ini sekolah Kristen Quacker, pimpinan sekolah memberikan toleransi khusus pada siswi muslim. Misalnya, mereka diperbolehkan puasa dan disediakan makan sahur. Di sana, mereka banyak menjelaskan bagaimana menjaga mutu sekolah. Setiap tahun lulus 100% dan hampir semua lulusannya masuk perguruan tinggi favorit di Inggris. Stuart Taylor, Marketing Manager-nya, banyak mengulas betapa penting marketing bagi sekolah-sekolah swasta agar tetap hidup. Ternyata kaur humas di sana menjadi bagian yang sangat penting untuk memasarkan sekolah sehingga masyarakat yakin dan percaya pada sekolah tersebut. Bagaimana mengubah image masyarakat bahwa sekolah itu berstandar internasional sehingga siswa dari luar negeripun tertarik untuk belajar di sini. Bagaimana dengan humas sekolah yang ada di Lamongan?
Sekolah Al-Hijrah, di Birmingham adalah sekolah ketiga yang kami kunjungi. Ini adalah salah satu dari enam sekolah negeri Islam (semacam Madrasah Aliyah Negeri) yang ada di Inggris Raya. Ternyata di Inggris ada sekolah Islamnya. Statusnya negeri lagi. Masuk sekolah Al Hijrah, seperti masuk pesantren sendiri. Kalau boleh dibilang, hampir semua managemen ruang kantor, kelas, staff dan lainnya bisa diterapkan di pesantren atau madrasah di Indonesia. Bahkan ada ada salah satu siswanya berasal dari Indonesia. Ada yang menarik di sini, setiap minggu ditempel hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang singkat dan mudah dihapal baik guru, karyawan maupun siswanya. Keunggulannya sama seperti sekolah lain, basis IT (internet) adalah sebuah kebutuhan pokok bagi sekolah-
Sebetulnya suasana dan kelengkapan fasilitas sekolah yang kami kunjungi itu hampir sama kalau kita mengunjungi sekolah internasional Ciputra, Surabaya. Untuk membuat sekolah standard internasional di Lamongan, bukanlah hal yang tidak mungkin. Istilahnya ‘nothing is impossible’. Kalau sekolah-sekolah di Lamongan ingin menuju ke sana maka perlu banyak studi banding ke sekolah internasional baik yang ada di Surabaya atau Jakarta. Pengalaman penulis waktu mengunjungi SD Ciputra 3 tahun yang lalu membuktikan bahwa mereka (guru-guru di sana) sangat senang berbagi ilmu dan pengalaman mengelola sekolah internasional.
Lamongan adalah kota pendidikan. 2100 lebih jumlah sekolah dan madrasah yang ada dan hanya 700an yang milik pemerintah (statusnya negeri). Ini mungkin jumlah institusi pendidikan terbesar di Indonesia. Sudah waktunya Lamongan menjadi acuan dan contoh bagi dunia pendidikan. Untuk itu perlu meningkatkan kualitasnya dan terus ke statusnya.
Dua tahun ini sekolah dan madrasah di Lamongan sedang berkompetisi untuk mendapatkan predikat SSN (sekolah standard nasional). Ini merupakan langkah awal yang baik untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun, jangan sampai predikat itu hanya sekedar ambisi pribadi kepala sekolah, pengawas atau kepala dinasnya. Atau karena proyek ratusan juta di depan mata kalau predikat sudah digenggam. Misi yang mulia ini perlu dipahamkan pada semua praktisi pendidikan, masyarakat dan pemerintah daerah. Sehingga menjadi tanggung jawab bersama untuk mewujudkannya. Kalau SSN sudah didapat, apa salahnya meneruskan misi berikutnya, yaitu menjadi Sekolah Rintisan Berstandard Internasional. “Nothing is impossible”. Selamat Tahun Baru 2007.
*Penulis adalah Guru SMPN 4 Lamongan (SSN)
dan PD I FKIP Unisla Lamongan
2 komentar:
cool abizzz blognya...
ngangkat tema yang baguz
tentang lamongan
terutama dari segi pendidikan
wah kreatif sekali...bagus..!!
eh ..kawan..jika ke WBL dan lewat desa Sekaran..mampir di kedai kami..BAKSO TETELAN GOLI Khas Desa Sekaran..Selatan Lapangan Desa Sekaran
Posting Komentar