Bazar panganan yang dilaksanakan di alon-alon kota Lamongan dari tanggal 22-24 Agustus 2008 bisa jadi sangat membebani orang tua. Siswa dipaksa beli kupon bazar yang harganya rata-rata Rp 10.000,- sampai Rp. 15.000,-. Kupon ini ditukar dengan panganan atau minuman yang dirasa 'sangat mahal' bagi siswa yang tidak mampu. Bagi siswa yang rumahnya luar kota, penukaran kupon yang hanya dilayani malam hari sangat merugikan mereka karena kebanyakan mereka pulang dengan sepeda atau naik angkutan umum. Pulang pada malam hari sangat menakutkan akibatnya kuponnya diberikan pada teman atau tidak diambil sekalian. Disisi lain, kegiatan yang dilakukan malam hari ini telah menjadi ajang maksiat bagi sebagian siswa-siswi. Bisa dilihat sampai tengah malam mereka tidak beranjak dari tempat bazar. hanya untuk bercanda ria, sementara esoknya harus belajar lagi di sekolah.
Kegiatan yang berlangsung 3 hari ini ternyata juga menyita tenaga dan pikiran dari para guru. Akibatnya banyak kelas yang lowong tidak ada gurunya karena sibuk mempersiapkan bazar. Seperti juga dampak kegiatan 17 lainnya, murid sekolah banyak yang pulang pagi.
Dengan melihat kenyataan di atas alangkah baiknya bila bazar ditiadakan saja. Murid tidak butuh makanan mahal. Mereka butuh beli buku paket. mereka butuh bayar uang komite. Ini yang lebih penting. Jadi bazar hanya merupakan pemborosan biaya pendidikan.
Blog ini untuk yang peduli pendidikan dan berbagai kebijakan-kebijakan di Kabupaten Lamongan. CHANGE FOR A BETTER LIFE AND MORE QUALIFIED EDUCATION.
Sabtu, 23 Agustus 2008
Jumat, 15 Agustus 2008
MENGAPA GURU BERPRESTASI TIDAK DIPERHATIKAN?
Setiap tanggal 17 Agustus, seluruh pejabat di Kabupaten Lamongan dapat kehormatan untuk ikut upacara hari kemerdekaan. Setiap tanggal 26 Mei, Lamoongan mengadakan upacara HUT Lamongan.
Tetapi seperti tahun-tahun yang lalu, perwakilan guru berprestasi tidak ada yang diundang untuk duduk di bangku kehormatan. Guru berprestasi atau guru teladan tidak pernah dianggap berjasa di kabupaten yang sedang maju-majunya ini. Guru-guru teladan ini harus puas dengan selembar piagam yang ditandatangani bupati tetapi tidak laku untuk pengajuan angka kredit (PAK). Atau cukup puas karena bisa dijadikan poin untuk menjadi kepala sekolah. Kita harus bangga, NUN rata-rata tertinggi dicapai oleh Lamongan. Seluruh peserta ujian lulus100 % kecuali yang meninggal dunia. Tetapi guru tetap tidak ada artinya atau tidak pernah dianggap dalam momen bersejarah ini di kabupaten tercinta ini. Bukankan untuk jadi pejabat, harus lulus dari sekolah dulu. Lulus sekolah harus dapat ilmu dari guru. Lah ini setelah jadi pejabat, lupa pada jasa guru. kalau yang berprestasi lainnya diumumkan dan diundang, mengapa guru tidak?
Tetapi seperti tahun-tahun yang lalu, perwakilan guru berprestasi tidak ada yang diundang untuk duduk di bangku kehormatan. Guru berprestasi atau guru teladan tidak pernah dianggap berjasa di kabupaten yang sedang maju-majunya ini. Guru-guru teladan ini harus puas dengan selembar piagam yang ditandatangani bupati tetapi tidak laku untuk pengajuan angka kredit (PAK). Atau cukup puas karena bisa dijadikan poin untuk menjadi kepala sekolah. Kita harus bangga, NUN rata-rata tertinggi dicapai oleh Lamongan. Seluruh peserta ujian lulus100 % kecuali yang meninggal dunia. Tetapi guru tetap tidak ada artinya atau tidak pernah dianggap dalam momen bersejarah ini di kabupaten tercinta ini. Bukankan untuk jadi pejabat, harus lulus dari sekolah dulu. Lulus sekolah harus dapat ilmu dari guru. Lah ini setelah jadi pejabat, lupa pada jasa guru. kalau yang berprestasi lainnya diumumkan dan diundang, mengapa guru tidak?
Minggu, 03 Agustus 2008
Buku Murah, Malah Jadi Mahal
Pemerintah telah berusaha menyediakan buku murah lewat internet. Ya, sepertinya ini menjadi terobosan yang sangat baik, karena semua orang (guru) bisa mengakses dan mencetak sebagai bahan ajar. Masalahnya tidak semua guru bisa ngenet. Tidak semua sekolah punya jaringan internet. Jutaan pelajar di negeri ini memegang komputer saja belum pernah. Apalagi internetan.
Sebetulnya kalau dihitung secara finansial, jatuhnya harga ternyata lebih mahal. Biaya rental internet selama lebih kurang 2 jam sekitar 6 ribu. Apalagi kalau downloadnya lama bisa-bisa 3 jam. Biaya nge-print habis 9 ribuan. Jadi kalau ditotal masih sama harganya dengan buku yang dijual dipasaran.
Saya pikir Pemerintah harus lebih realistis dalam menyelesaikan masalah perbukuan ini. Pemerintah tidak boleh 'medit' (pelit) dalam hal mencerdaskan generasi bangsa. Kalau pilihan gubernur habis ratusan milyar, mengapa beli buku dan dibagikan gratis pada murid tidak bisa? Kalau standar penilaian di SMP pada 4 mata pelajaran (Bahasa Indonesia, MTK, Bahasa Inggris dan IPA), mengapa tidak buku-buku itu saja yang dibagikan gratis pada setiap siswa. Yang menjadi pertanyaan adalah pemerintah serius tidak membantu mencerdaskan generasi muda ini? Menyediakan buku gratis saja tidak mampu. Memalukan.
Sebetulnya kalau dihitung secara finansial, jatuhnya harga ternyata lebih mahal. Biaya rental internet selama lebih kurang 2 jam sekitar 6 ribu. Apalagi kalau downloadnya lama bisa-bisa 3 jam. Biaya nge-print habis 9 ribuan. Jadi kalau ditotal masih sama harganya dengan buku yang dijual dipasaran.
Saya pikir Pemerintah harus lebih realistis dalam menyelesaikan masalah perbukuan ini. Pemerintah tidak boleh 'medit' (pelit) dalam hal mencerdaskan generasi bangsa. Kalau pilihan gubernur habis ratusan milyar, mengapa beli buku dan dibagikan gratis pada murid tidak bisa? Kalau standar penilaian di SMP pada 4 mata pelajaran (Bahasa Indonesia, MTK, Bahasa Inggris dan IPA), mengapa tidak buku-buku itu saja yang dibagikan gratis pada setiap siswa. Yang menjadi pertanyaan adalah pemerintah serius tidak membantu mencerdaskan generasi muda ini? Menyediakan buku gratis saja tidak mampu. Memalukan.
Langganan:
Komentar (Atom)