Sabtu, 11 April 2015

NASIHAT ORANG TUA JAWA TENTANG JALAN KEARIFAN
UNTUK MENUJU MA’RIFATULLAH
 (Taksonomi Lelaku Ma'rifat Orang Jawa) 

         Berikut ini kearifan spiritual lokal dari masyarakat Jawa yang tersusun dalam hirarki atau tahapan perjalanan (lelaku) untuk menuju ma'rifat kepada Allah SWT.

Kamu MENDENGAR (krungu), tetapi belum tentu TAHU (weruh)
TAHU belum tentu MENGERTI (ngerti)
kalau MENGERTI  belum tentu BISA (bisa)
kalau BISA  belum tentu BENAR (bener)
kalau BENAR belum tentu PADA TEMPATNYA (BISA MENEMPATKAN DIRI) (temanja)
kalau PADA TEMPATNYA belum tentu ADIL (adil)
kalau ADIL  belum tentu BIJAKSANA (wicaksono)
kalau BIJAKSANA belum tentu TAJAM PENGLIHATANNYA (MATA BATINNYA) (waskito)
kalau TAJAM PENGLIHATANNYA belum tentu MASUK SURGA (mlebu swargo)
kalau MASUK SURGA belum tentu BERTEMU GUSTI ALLAH SWT


               Sekilas ini seperti Taxonomy Bloom. Namun Bloom hanya menempatkan hirarki tingkat kesulitan berfikir dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi, seperti  dari mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisa, mensintesa sampai bisa mengevaluasi. Hanya saja Bloom dan yang merevisi setelah itu  berhenti pada domain kognitif, tanpa dihubungkan dengan domain spiritual, sehingga yang terlihat adalah hirarki pemikiran itu dipisahkan dengan hakikat tujuan hidup dan tujuan setelah hidup.

               Sebaliknya, taksonomi kearifan orang Jawa ini mempunyai kelemahan dibidang metodologi penelitian (ya, tentu saja. Selama berfikirnya bertolak dari pemikiran empirisme, materialisme dan postivisme tidak akan bisa menemukan apa yang diamati).  Bukan berarti taksonomi kearifan orang Jawa ini tidak bisa diteliti, hanya banyak pengajar dan peneliti terpengaruh  meneliti yang nampak dan ada.  Hirarki (taksonomi) ini bisa dilihat dari pola lelaku (kumpulan kegiatan berfikir, merasakan, dan melakukan) masyarakat Jawa.   Salah satu wujud dan sifat khas masyarakat Jawa adalah bersikap prihatin dengan mengutamakan lelaku. Mengutamakan lelaku disini bertujuan untuk menuju kepada jalan makrifat  kepada Gusti Allah SWT.

Ajaran orang Jawa tentang thalabul ilmi atau tentang menuntut ‘ngelmu dan lelaku’ dapat kita jumpai dalam ‘Serat Wedhatama’ karangan Sri Mangkunegara IV, Pupuh II – tembang Pucung, bait pertama yang berbunyi :

Ngelmu iku, kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas, tegase kas nyantosani
Satya budya pangekese dur angkara
Terjemahannya :
Ilmu itu, harus diperoleh melalui laku (belajar)
Dalam belajar niatnya harus kuat & mantap
Sabar tawakal untuk menghancurkan sifat angkara murka.
 Dan seterusnya.


(Bersambung ulasannya. Sarapan dulu. Sebelum ditutup, sebagai orang Jawa yang tidak mau kehilangan kearifan lokalnya. Pesan yang bisa kita tangkap dari ‘taksonomi lelaku orang Jawa’ adalah  Makanya jadi orang jangan sombong. Jangan takabur. Jangan ke-PD-an akan kelebihan yang dimiliki. Semua itu milik Allah SWT. Hanya Allah SWT yang maha tahu akan jati diri kita. Wa Allahu a’lam. R. Chusnu Yuli Setyo, Bumi Damai Al Gayam, 12 April 2015)

Referensi:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10204046812466353&set=a.3344242640619.2129342.1105324546&type=1&theater
http://id.wikipedia.org/wiki/Empirisme
http://en.wikipedia.org/wiki/Bloom%27s_taxonomy
http://id.wikipedia.org/wiki/Materialisme
https://kaweruhsejati.wordpress.com/2012/11/30/ilmu-sejatikonsep-ngelmu-dan-lelaku/
http://kamus.cektkp.com/waskita/

Tidak ada komentar: