NASIHAT ORANG TUA JAWA TENTANG JALAN KEARIFAN
UNTUK MENUJU MA’RIFATULLAH
(Taksonomi Lelaku Ma'rifat Orang Jawa)
Berikut ini kearifan spiritual lokal dari masyarakat Jawa yang tersusun dalam hirarki atau tahapan perjalanan (lelaku) untuk menuju ma'rifat kepada Allah SWT.
Kamu MENDENGAR (krungu), tetapi belum tentu TAHU (weruh)
Kamu MENDENGAR (krungu), tetapi belum tentu TAHU (weruh)
TAHU belum tentu MENGERTI (ngerti)
kalau MENGERTI belum
tentu BISA (bisa)
kalau BISA belum
tentu BENAR (bener)
kalau BENAR belum tentu PADA TEMPATNYA (BISA MENEMPATKAN
DIRI) (temanja)
kalau PADA TEMPATNYA belum tentu ADIL (adil)
kalau ADIL belum
tentu BIJAKSANA (wicaksono)
kalau BIJAKSANA belum tentu TAJAM PENGLIHATANNYA (MATA
BATINNYA) (waskito)
kalau TAJAM PENGLIHATANNYA belum tentu MASUK SURGA (mlebu
swargo)
kalau MASUK SURGA belum tentu BERTEMU GUSTI ALLAH SWT
Sekilas ini seperti Taxonomy Bloom. Namun Bloom hanya
menempatkan hirarki tingkat kesulitan berfikir dari tingkat rendah sampai
tingkat tinggi, seperti dari mengetahui,
memahami, menerapkan, menganalisa, mensintesa sampai bisa mengevaluasi. Hanya
saja Bloom dan yang merevisi setelah itu berhenti pada domain kognitif, tanpa dihubungkan
dengan domain spiritual, sehingga yang terlihat adalah hirarki pemikiran itu
dipisahkan dengan hakikat tujuan hidup dan tujuan setelah hidup.
Sebaliknya, taksonomi kearifan orang Jawa ini mempunyai
kelemahan dibidang metodologi penelitian (ya, tentu saja. Selama berfikirnya
bertolak dari pemikiran empirisme, materialisme dan postivisme tidak akan bisa
menemukan apa yang diamati). Bukan
berarti taksonomi kearifan orang Jawa ini tidak bisa diteliti, hanya banyak pengajar
dan peneliti terpengaruh meneliti yang
nampak dan ada. Hirarki (taksonomi) ini
bisa dilihat dari pola lelaku (kumpulan kegiatan berfikir, merasakan, dan
melakukan) masyarakat Jawa. Salah satu wujud dan sifat khas masyarakat
Jawa adalah bersikap prihatin dengan mengutamakan lelaku. Mengutamakan lelaku
disini bertujuan untuk menuju kepada jalan makrifat kepada Gusti Allah SWT.
Ajaran orang Jawa tentang thalabul ilmi atau tentang menuntut ‘ngelmu dan lelaku’ dapat kita jumpai dalam ‘Serat Wedhatama’ karangan Sri Mangkunegara IV, Pupuh II – tembang Pucung, bait pertama yang berbunyi :
Ngelmu iku, kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas, tegase kas nyantosani
Satya budya pangekese dur angkara
Terjemahannya :
Ilmu itu, harus diperoleh melalui laku (belajar)
Dalam belajar niatnya harus kuat & mantap
Sabar tawakal untuk menghancurkan sifat angkara murka. Dan seterusnya.
Lekase lawan kas, tegase kas nyantosani
Satya budya pangekese dur angkara
Terjemahannya :
Ilmu itu, harus diperoleh melalui laku (belajar)
Dalam belajar niatnya harus kuat & mantap
Sabar tawakal untuk menghancurkan sifat angkara murka. Dan seterusnya.
(Bersambung
ulasannya. Sarapan dulu. Sebelum ditutup, sebagai orang Jawa yang tidak
mau kehilangan kearifan lokalnya. Pesan yang bisa kita tangkap dari ‘taksonomi
lelaku orang Jawa’ adalah Makanya jadi
orang jangan sombong. Jangan takabur. Jangan ke-PD-an akan kelebihan yang
dimiliki. Semua itu milik Allah SWT. Hanya Allah SWT yang maha tahu akan jati
diri kita. Wa Allahu a’lam. R. Chusnu Yuli Setyo, Bumi Damai Al Gayam, 12 April
2015)
Referensi:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10204046812466353&set=a.3344242640619.2129342.1105324546&type=1&theater
http://id.wikipedia.org/wiki/Empirisme
http://en.wikipedia.org/wiki/Bloom%27s_taxonomy
http://id.wikipedia.org/wiki/Materialisme
https://kaweruhsejati.wordpress.com/2012/11/30/ilmu-sejatikonsep-ngelmu-dan-lelaku/
http://kamus.cektkp.com/waskita/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar