-->
“BEST PRACTICE” BERSAMA GURU-GURU TERBAIK AMERIKA
Oleh: R. Chusnu Yuli Setyo, M.Pd
Oleh: R. Chusnu Yuli Setyo, M.Pd
Tulisan ini saya persembahkan untuk HUT PGRI yang ke-63 dan HUT Guru Nasional ke-14. Ini sebagai wujud dedikasi saya pada dunia pendidikan karena saya adalah salah satu guru yang beruntung dapat mengikuti Program Studi Banding ke Amerika di tahun 2008 ini dan ke Inggris tahun 2006. Bukan karena hal-hal seperti ini yang membuat saya bangga. Diajak jalan-jalan ke Istana Buckingham, naik limousine, bertemu dengan menteri luar negeri Inggris, diberi pin khusus oleh Mr Ballard walikota Indianapolis sebagai password untuk masuk di setiap instansi atau ikut kampanye Barrack Obama dan diberi email langsung oleh presiden terpilih ini.
Yang membuat saya sangat terkesan dan bangga adalah karena saya bisa melihat langsung kegiatan pembelajaran di sekolah internasional dan bisa sharing “Best Practice” dengan guru-guru terbaik di Amerika yang mungkin bisa diterapkan di sini. Bagi sekolah-sekolah berstatus RSBI maupun SBI yang belum mendapat link dengan sekolah di luar negeri, saya akan dengan senang hati membantu menghubungkannya agar bisa meningkatkan mutu sekolahnya menjadi sekolah bertaraf internasional yang sebenarnya, bukan hanya papan nama atau piagam sekolah belaka.
Pada tahun 2006, saya mendapat kesempatan short course di Leeds University, Inggris. Di samping belajar manejemen sekolah, saya diajak studi banding ke Temple Moor High School di kota Leeds di mana sekolah ini mempunyai menejemen mutu yang baik. Mutu di sekolah ini tidak hanya didefinisikan oleh guru dan kepala sekolah, tetapi mutu itu banyak ditentukan oleh murid, orang tua, masyarakat sekitarnya dan badan akreditasi.
Kalau masyarakat dan orang tua mendefinisikan mutu adalah lulus ujian A level (seperti UAN, tetapi tidak menjadi patokan kelulusan, bisa digunakan untuk daftar ke PT negeri), maka sekolah harus memenej sedemikian rupa sehingga ada jaminan bahwa anaknya lulus ujian. Misalnya pesuruh sekolah menjamin kepada kepala sekolah bahwa sore hari dan pagi hari sekolah bersih dan tanaman-tanaman telah disiram. Ia berani bertanggung jawab kalau terjadi kegagalan dalam tugasnya.
Guru bahasa Inggris menjamin siswa-siswanya mendapat nilai minimal B asal diberi fasilitas buku, kaset, akses internet, biaya remidi, biaya membuat soal dan ganti foto copy untuk ulangan harian. Wakil urusan kurikulum menjamin bahwa pelaksanaan KBM berjalan tertib dan menyenangkan bagi murid. Tidak ada kelas kosong yang tidak diisi guru piket.
Bagian tata usaha menjamin semua kegiatan administrasi tersusun rapi, semua akses berhubungan dengan data guru dan murid dengan cepat dapat tersedia atau surat menyurat dapat dilayani dengan cepat. Kalau semua karyawan, guru, dan pejabat sekolah telah menjamin tugasnya masing-masing.
Kepala sekolah bisa memberi jaminan pada orang tua bahwa anaknya akan berhasil belajar di sekolahnya. Sebaliknya orang tua juga harus berani menjamin bahwa biaya sekolah anaknya tidak terlambat atau menjamin ketersediaan atas kurangnya fasilitas di sekolah yang bisa mendukung prestasi belajar anaknya. Mutu juga dinilai oleh badan akreditasi yang independen (bukan dibawah dinas pendidikan seperti di sini).
Menjamin mutu harus diikuti keberanian bertanggung jawab kalau terjadi kegagalan dalam tugasnya. Dan sebetulnya tidak ada yang perlu ditakuti karena indikator keberhasilan telah disusun bersama sebelum kegiatan dimulai. Kalau semua menjamin mutu (kualitas) apa yang menjadi tanggung jawabnya, maka sekolah dengan pengelolaan yang baik akan menjadi sekolah unggulan yang bermutu.
Kalau paragraf di atas berbicara tentang bagaimana menejemen mutu diterapkan di sekolah, tulisan yang ini menguraikan bagaimana sistem pendidikan di Amerika, KBM dan metode pembelajaran terbaik yang dipraktekkan (Best Practice) oleh guru-guru di Lawrence North High School, Fall Creek Valley Middle School, dan Mc Kenzy Career Center. Di sekolah inilah selama dua minggu penulis menghabiskan waktu untuk mengadakan observasi dan terlibat dalam pembelajaran di kelas.
Kalau paragraf di atas berbicara tentang bagaimana menejemen mutu diterapkan di sekolah, tulisan yang ini menguraikan bagaimana sistem pendidikan di Amerika, KBM dan metode pembelajaran terbaik yang dipraktekkan (Best Practice) oleh guru-guru di Lawrence North High School, Fall Creek Valley Middle School, dan Mc Kenzy Career Center. Di sekolah inilah selama dua minggu penulis menghabiskan waktu untuk mengadakan observasi dan terlibat dalam pembelajaran di kelas.
Sistem pendidikan di Amerika bisa berbeda-beda di setiap negara bagian. Tetapi dari laporan 45 peserta Partnership for School Program yang disebar di 13 negara bagian bisa diambil benang merah seperti ini. Partisipasi dan dukungan masyarakat sangat tinggi. Bisa dibuktikan dengan ketika coblosan pemilu 4 Nopember 2008 kemarin, di beberapa district (kecamatan atau kota) seluruh masyarakatnya terlibat secara langsung untuk memilih 5-9 orang school board (seperti Komite sekolah atau dewan pendidikan). Dewan pendidikan ini memilih satu superintendent (pengawas) dimana ia bersama kepala sekolah dan dewan guru menyusun standar pendidikan sekolah (semacam KTSP) dengan acuan Standar Pendidikan nasional. Biaya pendidikan diambilkan dari Property Tax (pembelian rumah, mobil dll) sekitar 40 – 55% dari masyarakat di distrik tersebut.
Dari alokasi anggaran sampai 55% ini saja sudah terlihat betapa peduli dan tingginya partisipasi masyarakat dan dukungan pemerintah terhadap keberadaan sekolah di daerahnya. Maka tidak mengherankan kalau sekolah seperti Lawrence North High School mempunyai fasilitas yang luar biasa lengkap. Sepertinya sekolah se-Jawa belum ada yang bisa menyamai kelengkapan fasilitas dengan sekolah ini. Ada kolam renang, studio TV lokal sekolah, Arena gulat, lapangan basket, volley ball, lapangan American Football, 2 gedung teather, ruang computer berinternet yang tersambung dengan komputer di tiap kelas, ruang marching Band dan paduan suara, ruang auditing video dan foto, lab bahasa, sampai planetarium. Planetarium adalah ruang angkasa buatan dimana kalau kita masuk maka seperti melihat miniatur ruang angkasa. Harganya milyaran rupiah. Rasanya belum ada sekolah menengah yang menganggarkan membeli planetarium di Indonesia ini.
Anggaran 40-55% itu juga termasuk untuk menggaji guru dan biaya operasional sekolah. Murid hanya membeli buku tahunan dan biaya makan siang setahun. Disini nampak sekolah internasional pun juga masih berat kalau membeli buku untuk muridnya. Apalagi sekolah-sekolah di desa di Indonesia, meski ada BOS tetap saja belum mencukupi biaya minimal murid.
Kepedulian pemerintah dan masyarakat ini bisa dilihat dari peraturan larangan merokok, mengkonsumsi minuman keras, mengakses situs-situs porno, atau terlibat dalam aksi pornografi sebelum umur 18 tahun. Larangan ini sangat keras dengan denda yang sangat tinggi. Masyarakat juga mendukung dengan melaporkan toko atau warung yang menjual rokok atau minuman keras pada anak sekolah. Toko yang ketahuan menjual akan didenda yang bisa membuat toko itu bangkrut. Jadi dalam hal ini pemerintah lokal maupun pusat di Indonesia patut meniru bagaimana pemerintah Inggris dan Amerika menjaga generasi mudanya. Meskipun ini negara yang menjunjung kebebasan, tetapi sebelum umur 18 tahun (di beberapa negara bagian umur 21) mereka masih dalam pengawasan orang tua, masyarakat dan pemerintah.
Bagaimana kurikulum disana? Hampir semua jenjang pendidikan dari PAUD, TK sampai SMA menggunakan system moving class. Saat pindah jam, siswa yang pindah mencari kelas. Guru tetap di kelasnya. Bagi guru, kelas adalah rumah kedua dimana ia bisa menempatkan buku penunjang, kliping Koran, peta, hasil pekerjaan siswa, LCD, komputer, foto keluarga sampai dispenser untuk membuat teh atau kopi.
Kurikulum system SKS dibagi 2 macam. Mata pelajaran inti (core curriculum) dan mata pelajaran penunjang (extended Curriculum). Kurikulum inti terdiri dari Language Art (English), Mathematics, Social studies, Science, and Health. Bahasa Inggris bisa integrated (digabung) dengan pelajaran seni, sosial maupun ilmu pengetahuan. Misalnya, guru sejarah berkolaborasi dengan guru Bahasa Inggris. Untuk pembahasan dan menjawab isi buku (materi) akan dinilai guru sejarah. Sedangkan untuk laporan tertulis atau lisan akan dinilai guru bahasa Inggris karena berhubungan dengan ketrampilan berbahasa.
Yang menarik adalah sekolah Lawrence North High school bekerjasama dengan perguruan tinggi ternama seperti Indiana University, Vincennes University dan Ivy Tech College. Ada beberapa mata pelajaran yang merupakan mata pelajaran pilihan dan menjadi kredit untuk bisa masuk ke jurusan tertentu di universitas tersebut. Misalnya, Health Careers adalah College Credit program untuk ke Universitas Vincennes. Food Industry Occupation untuk ke Ivy Tech College. Genres of Literature, Biology II, Chemistry II dan Brief Survey of Calculus untuk ke Indiana University. Kampus yang terakhir ini luasnya hampir dua kali kampus ITS Surabaya. Saya merasakan suasana akademis kampus kelas dunia ini ketika berkunjung ke sana.
Kegiatan di kelas juga tidak kalah menariknya. Guru memang mempunyai persiapan matang dalam mengajar. Hampir semua pembelajaran berbasis tugas (project based learning) dan semua tugas dikoreksi guru. Adalah hal yang memalukan kalau guru tidak mengembalikan tugas pada murid. Dengan kapasitas kelas cuma 20 murid, guru memang mempunyai banyak waktu luang untuk menguji kemampuan siswa secara lisan. Yang paling mengagumkan adalah dedikasi dan keprofesionalan para guru dalam menjalankan tugasnya.
Memang guru di sana rata-rata minimal S2, bahkan ada beberapa professor mengabdikan diri di sekolah menengah ini. Namun tidak semua baik dan bisa ditiru. Misalnya, ketika saya mengajar, ada murid yang duduk di atas meja dan guru aslinya tidak melarang atau menasehatinya. Tentu ada sisi positif dan negatifnya. Tidak ada salahnya kalau kita meniru sistem pendidikan dan metode pembelajaran di Amerika. Tentu yang sesuai dengan kepribadian bangsa.
Penulis R. Chusnu Yuli Setyo
Dan
PD 1 FKIP Universitas Islam Lamongan